Sabtu, 28 Oktober 2017

Awas! Cacingan Juga Bisa Sebabkan Kematian Lho, Ini Penjelasan Medisnya

Cacingan merupakan penyakit yang dianggap sepele. Penyakit ini biasanya dapat disadari ketika perut sudah sakit.


Namun, bila tak ditangani dengan baik, cacingan bisa berujung pada kematian.
Dokter Rospita Dian mengatakan, cacingan terjadi karena infeksi cacing di dalam tubuh manusia.
Larva atau telur cacing dapat masuk ke dalam tubuh melalui tanah yang tercemar (soil transmitted helminthiasis).seperti yang dilansir oleh tribunlifestyle 17/10/2017.

Selain itu, air yang kurang bersih, makanan, kuku yang kotor, serta benda-benda yang terkontaminasi dapat membantu penyebaran cacing atau larva.
Meski terlihat mudah diantisipasi, nyatanya Indonesia termasuk dalam sepuluh besar negara yang memerlukan penanganan khusus terhadap cacingan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa Indonesia berada pada urutan ketiga, setelah India dan Nigeria dalam ranking memalukan ini.


Rospita menyebutkan, data WHO tahun 2016 menyebutkan, 55 juta anak Indonesia masih membutuhkan tindakan pencegahan cacingan.
“Cacingan bisa kena semua orang, tapi anak-anak paling rentan. Cacingan juga bukan penyakit buat orang kurus dan tak ada hubungannya dengan kemiskinan,” kata Rospita dalam acara media workshop bersama Johnson & Johnson Indonesia, Jakarta, Selasa (17/10/2017).
Menurutnya ada 4 jenis cacing yang paling banyak ditemukan pada manusia, yaitu:
1.cacing gelang (Ascaris lumbricoides)
Ascaris lumbricoides dewasa hidup di dalam usus, cacing betina mampu bertelur rata-rata 200.000 butir perhari, telur ini kemudian keluar dari tubuh hospes bersama tinja. Apabila ditanah kondisinya menguntungkan dalam jangka waktu 3 minggu akan menjadi infektif. Apabila telur infektif tertelan manusia telur akan menetas menjadi larva rhabditiform di usus, kemudian larva akan menembus dinding usus dan masuk ke vena atau pembuluh limfe, ikut dalam sirkulasi darah, ke jantung dan kemudian sampai paru-paru. Dalam kapiler alveoli larva rhabditiform kemudian menembus dinding alveoli, masuk ke rongga alveoli, bergerak ke atas menuju bronkhus dan sampai glottis. Kemudian dari glottis larva tertelan masuk esofagus dan tumbuh menjadi dewasa di usus. Lama siklus hidup cacing ini dari terjadinya infeksi sampai cacing dewasa bertelur memerlukan waktu sekitar 2 bulan, dan cacing dewasa dapat hidup selama 12 – 18 bulan.
Cacing gelang hidup di dalam usus halus. Panjang betinanya bisa mencapai 20-35 sentimeter.Pada cacing gelang, gejalanya berupa sakit perut, kembung, diare, dan berkurangnya nafsu makan. Akibatnya, pengidap cacing gelang menjadi lemah dan kurang bergairah melakukan aktivitas.
“Pada kasus berat, bisa terjadi penyumbatan usus karena infeksi cacing gelang. Meski jarang terjadi, bila tak ditangani dengan cepat bisa menyebabkan kematian,” kata Rospita.
2.cacing cambuk (Trichuris trichiura)

Trichuris trichiura adalah nematoda usus atau cacing usus yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminth) yang dapat meyebabkan penyakit trichuriasis, cacing ini disebut juga Trichocephalus dispar, Whip worm, Trichocephalus hominis, dan cacing cambuk karena bentuknya yang menyerupai cambuk.Cacing dewasa hidup di sekum (cecum) tapi pada infeksi yang berat dapat dijumpai dibagian bawah ileum sampai rectum. Telur keluar bersama tinja, telur mengandung larva / menjadi infektif dalam waktu 2 – 4 minggu. Apabila telur tertelan manusia, telur akan menetas menjadi larva di istestinum tenue kemudian larva menembus villi-villi usus dan tinggal didalamnya selama 3 – 10 hari. Setelah larva tumbuh , kemudian larva turun sampai sekum kemudian menjadi cacing dewasa. Waktu yang diperlukan sejak tertelannya telur sampai menjadi cacing dewasa yang siap bertelur kira-kira 90 hari.

3.cacing tambang (Ancylostoma duodenale, Necator americanus)
ukuran cacing tambang jauh lebih kecil. Cacing tambang betina hanya mencapai satu sentimeter. Meski demikian, larva cacing tambang bisa masuk melalui kulit.
Bila telah masuk ke dalam tubuh manusia, cacing tambang akan hidup di usus halus. Gigi cacing akan melekat ke selaput lendir usus dan menghisap darah hingga menyebabkan anemia. Berat badan turun, pucat, tidak nafsu makan, mual, dan diare adalah gejala infeksi cacing tambang.Bila telah masuk ke dalam tubuh manusia, cacing tambang akan hidup di usus halus. Gigi cacing akan melekat ke selaput lendir usus dan menghisap darah hingga menyebabkan anemia. Berat badan turun, pucat, tidak nafsu makan, mual, dan diare adalah gejala infeksi cacing tambang.


4.Cacing kremi


Untuk cacing kremi, mereka punya tempat tersendiri untuk bertelur. Hidup di usus besar, cacing kremi akan turun ke anus untuk mengeluarkan 11.000 telur per cacing di malam hari.
“Cacing kremi setelah bertelur akan mati. Tapi, ketika malam hari kita merasa gatal, digaruk, bisa masuk lagi ke mulut, saat makan misalnya. Kremi juga bisa migrasi ke kemaluan dan bikin infeksi saluran urin,” kata Rospita.
Selain cacing gelang, cacing cambuk juga dapat menyebabkan anemia. Ukurannya mencapai 30-55 milimeter.
Pada taraf ringan, infeksi cacing cambuk tidak disertai gejala. Akan tetapi, pada tingkat lanjut akan terjadi peradangan dan iritasi selaput lendir usus. Lalu, 0,0005 cc darah akan dihisap oleh cacing gelang setiap harinya.
Sebetulnya, pencegahan terhadap infeksi cacingan cukup mudah dilakukan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), yaitu cuci tangan setelah buang air besar, sebelum makan, menggunting kuku, dan menggunakan alas kaki. Lalu, minumlah obat cacing minimal sekali setahun.
“Meski makanan dimasak, tapi tidak menutup kemungkinan larva bisa datang melalui lalat. Cuci tangan juga sebaiknya pakai air yang mengalir bukan hand santizer," kata Rospita.
"Ikan, kelapa mentah bikin cacingan hanya mitos. Semua makanan bisa bikin cacingan kalau sudah terkontaminasi,” imbuhnya lagi.


Itulah  bahaya dari  cacingan yang harus diwaspadai setiap orang tua.

Referensi: tribun lifestyle


Tidak ada komentar:

Posting Komentar